Minggu, 22 Mei 2016

Opini cerita "Istriku Berhentilah Mengeluh"

Ada yang mengusik pikiran yg ingin segera tertuang. Mengenai keluhan dan rasa lelah. Ya. Rasa lelah yg terkadang terlalu disepelekan.

Beberapa bulan lalu, sedang booming mengenai postingan di salah satu akun jejaring sosial FB, “istriku, berhentilah mengeluh” dan cerita di dalamnya. Tentang seorang suami yg menasehati istrinya untuk berhenti mengeluh dan menangis karena merasa lelah mengurus rumah sekaligus ketujuh anak tanpa bantuan asisten rumah tangga.

Dalam cerita tersebut sang suami menasehati dan menceritakan tentang Rasulullah yg menasehati putrinya, Fatimah ra, yg sedang menangis karena tangannya mengelupas (luka) karena menggiling gandum. Menasehati bahwa semua ganjaran lelah itu terbayarkan surga.

Membaca cerita tersebut, hati saya tiba-tiba terusik. Sangat terusik. Bukan hendak membahas dari sudut pandang ilmu tertentu. Tentu tidak. Karena ilmu saya masih sangat-sangat jauh dari mumpuni. Masih berupa ampas-ampas terberai di dasar air.

Saya hanya ingin menyampaikan apa yg saya rasakan dari cerita tersebut.

Begini ya para bapak-bapak suami.

Pernahkan anda membaca buku ‘MEN ARE FROM MARS AND WOMEN ARE FROM VENUS’ karya John Gray, ph.d.? Jika belum, COBA BACA! Pernahkan anda membaca buku ‘BARAKALLAAHU LAKA, BAHAGIANYA MERAYAKAN CINTA’ karya Ust. SALIM A. Fillah ? Jika belum, COBA BACA! Atau pernahkan anda membaca 'PSIKOLOGI SUAMI ISTRI’ karya DR. Thariq Kamal An-Nu'aini ? Atau 'TALK TO ME LIKE I’M SOMEONE YOU LOVE’ karya Nancy Dreyfus, Psy.D., ? Dan masih banyak lagi buku-buku tentang pernikahan sejenisnya. Biar para bapak-bapak suami tidak hanya asal meng-copy paste sebuah tulisan atau tidak langsung ujug-ujug nge-share sebuah cerita hanya dari judulnya saja untuk meng-kode-i para istri-istrimu.

Oke, mari kita diskusi. Mengapa diskusi? Karena saya masih tahu diri. Saya masih miskin ilmu. Karena toh pernikahan saya baru berjalan 1 tahun lebih. See? Masih terlalu muda untuk memberi pelajaran mengenai ilmu pernikahan dibanding pasangan-pasangan sekelas bunda Widiyawati dengan alm.ayah Sopan Sopian.

Jadi begini bapak-bapak suami. Pertama, Mengapa istrimu banyak sekali mengeluh? Karena begitulah para wanita melepaskan beban. Bercerita. Bukan untuk membebanimu dengan semua keadaan yang dirasa salah olehnya. Tapi istrimu itu hanya ingin mengungkapkan apa yg berseliweran menumpuk di dalam pikiran dan hatinya. Jika bukan padamu, teman hidupnya hingga maut memisahkan (berharap teman sampai surga), pada siapa lagi mereka harus menumpahkannya. Bukankah istri sholehah itu yg menutup rapat segala permasalahn rumah tangganya dari telinga-telinga manusia lain? Jika istrimu berkeluh kesah padamu, itu artinya dia menganggap bahwa kamu adalah 'the only one’ yg bisa dia percaya. Harusnya kamu bersyukur.

Kedua. Karena wanita berbicara dg hati. Berbeda dg laki-laki yg cendrung realistis, wanita memikirkan permasalahan dg hati, dg berbagai emosi. Pernah dengar kalimat 'wanita itu mikir pake hati, lelaki mikir pake otak’. Walaupun tidak melulu demikian, tapi kecendrungannya memang begitu. Saat istrimu menumpahkan segala macam keluh, kesal, amarah, atau sedih, bukan berarti mereka benar-benar merasa dunia segitu hancurnya. Bukan berarti mereka merasa bahwa semua keadaan begitu serba salah. Bukan bermaksud benar-benar ingin membebanimu dg semua itu. Sekali lagi, mereka hanya ingin mengeluarkan segala macam sesak.

Karena bagi wanita yg sering menahan sesak, seperti bom waktu yg sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan segala yg ada disekitarnya. Wanita pada dasarnya mengetahui bahwa apa yg mereka keluhkan tidak berarti yg sebenarnya. Tapi inilah salah satu kebutuhan wanita. Wanita butuh pendengar setia. Selain pada Tuhannya, mereka akan mencari teman yg mereka anggap pantas menjadi tempatnya menyandarkan segala macam lelah. Disaat para ruami mencari penyelesaian masalah dengan bersemedi masuk gua (baca menyendiri), istri menyelesaikannya dg bercerita. Menumpahkan emosi. Mereka meminta solusi? TIDAK. Mereka hanya butuh didengarkan, itu yg penting. Setelah semua keluhnya tersampaikan, para suami mendengar dg baik, mereka nyaman, setelah letupan emosi istei mereda, dg sendirinya mereka mampu menerima solusi atau justru menemukan sendiri solusi dr permasalahannya.

Ketiga, karena istri-istrimu bukanlah Khadijah, 'Aisyah, Fatimah ataupun wanita-wanita muslimah jaman Rasulullah. Istrimu hanya wanita akhir zaman, yg sedang berusaha menggapai surga, di dalam hidup bersamamu. Bukankah sebaik-baiknya seorang hamba adalah yg paling baik akhlaknya terhadap istrinya? Jika dengan memberikan waktu dan kesempatan kepada istri untuk bisa merasa lebih baik, lalu membuat istri bahagia, dan dengan itu pula rumah tangga terselamatkan dikatakan sebagai akhlak yg baik, maka patutlah itu dilakukan oleh para suami.

Bagaimana dengan kelanjutan cerita postingan di FB? Nah, kebayangkan untuk para bapak-bapak suami terhormat, mengurus rumah dan ketujuh anak sendiri tanpa asisten rumah tangga, membiarkan sang suami pergi mencari nafkah dg tenang, lalu menangis mengeluhkan kelelahan dalam mengurus rumah tangga dan anak, setelah itu dinasehati dg membandingkannya dg mulianya Fatimah ra, wajar nggak sih kalau sang istri merasa bahwa suaminya tidak mengerti kondisinya? Wajar nggak sih kalau akhirnya rumah tangga menjadi begitu kaku, dingin, sepi, lalu akhirnya karam? SITU PIKIR SITU MUHAMMAD atau ALI BIN ABI THALIB?

Berempati sedikitlah kepada istrimu. Bukankah Rasulullah saat menghadapi letupan keluhannya 'Aisyah tetap bersikap arif? Tetap mendengarkan? Tidak langsung menginterupsi? Bukankah Rasulullah pun memberi jeda kepada istrinya untuk bisa mendamaikan hatinya lalu akhirnya bisa berpikir dg lebih jernih?

Hmm…akhirnya segala yg mengusik pikiran ini sudah tertuang. Maafkan tulisan yg pabalatak ini. Maafkan ilmu yg masih cetek ini. Maafkan jika dalam penulisan ini banyak kekeliruan. Di atas sudah saya sampaikan, mari berdiskusi, karena saya tidak sedang memberikan kuliah umum. Toh saya bukan dosen. Allah lebih tahu dan Allah yg maha sempurna.

Jazakallaah khairaan katsiraan

-farfalla-