Rabu, 09 Juli 2014

IBUKU dari PALESTINA

Gaza..Palestin..

Ya Allah, berita gencar-gencarnya zionis israel yang menyerang Gaza dan Palestin dengan rentettan bom, rudal dan sebagainya itu kembali menerbangkankan memoriku tentang sesosok ibu dari negeri para mujahid/mujahiddah itu.

Hari itu, Shubuh pertamaku di mesjid Nabawi, di Kota Rosulullah, Madinah, dekat sekali dengan kekasihku itu. Shubuh itu aku dan mama tidak mendapat tempat di depan. Akhirnya kami menempati tempat yang seadanya, di dekat pintu keluar. Kami beserta romobngan ibu-ibu dari travel perjalanan Umroh janjian pergi shalat shubuh bersama.

Singkat cerita, selesai mengerjakan shalat shubuh, aku mengeluarkan Al-Qur'an kecil dari dalam tasku. Mama dan rombongan lain juga masih tampak ingin berlama-lama di mesjid. Aku buka Al-Qur'an tersebut, lalu aku mencari tempat bersender agar lebih nyaman, karena jujur, badanku masih lelah karena perjalanan dari Indonesia ke Madinnah itu tidaklah dekat :)

Baru saja hendak membaca basmalah, seorang ibu-ibu bertanya padaku dengan menggunakan bahasa Arab yang kurang lebih aku artikan "apakah saya boleh duduk di sini?" Lalu akupun tersenyum sambil mempersilahkannya dengan kedua tanganku. Ibu itu mengusap kepalaku dan tersenyum.

Perawakannya tinggi dan besar. Mengunakan Gamis berwarna hijau tua dengan jilbab menutupi dada berwarna hitam. Ibu tersebut membawa tas usang berwarna hitam, yang terlihat sedikit lusuh di bagian depan.

Setelah memperhatikan sesaat, aku mulai membaca Al-Qur'an perlahan. Tidak disangka ibu tersebut mendengarku. Beliau kembali mengusap kepalaku sambil tersenyum. Lalu dia menepuk pundakku dan bertanya "Indonesi?". Aku pun menjawabnya sambil menganggukkan kepalaku. Lalu dia kembali berkata "Subhanallaah". Tanpa di duga-duga Ibu tersebut memelukku. Aku sampai kaget.

Lalu dia bercerita dengan antusias dengan bahasa arab yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk. Seolah dia mengerti bahwa aku tidak bisa memahami apa yang dia katakan, dia lalu mengatakan "I love Indonesi. Indonesi good. Indonesi muslim is very good" dengan logat yang terbata-bata dan seadanya juga. Lalu aku bertanya "where do you come from?" Ibu itu aga sedikit bingung. Lalu aku kembali menjelaskan "I, Indonesia. You?". Setelah itu ibu tersebut tersenyum sambil mengangguk "I Palestin". Aku pun kembali mengatakan "Subhanallah..Indonesian muslim love palestin". Dan Ibu itu kembali berkata dengan arti "Ya, aku tahu, muslim di Indonesia sangat mencintai palestin".

Setelah pembicaraan itu, Ibu tersebut mengambil Al-Qur'anku. Dia menunjukkan baris pertama di sebuah halaman seolah bartanya "Apa dari sini kamu mulai membaca?". Aku pun mengangguk. Lalu dia mulai membaca dengan suara yang indah, perlahan dan makhraj yang sangat tepat. Lalu ibu itu mengayunkan tandanya seolah berbicara padaku agar aku mengikuti cara bacanya. Lalu aku mengikutinya. Setiap selesai aku mengikuti cara ibu itu membaca Al-Qur'an, Ibu itu selalu mengatakan "Subhanallah" sambil mengusap-usap kepalaku. Dan setiap ada cara baca ku yang kurang tepat, ibu tersebut kembali mengulang bacaannya dengan lebih pelan dan menekankan di bagian yang aku salah membacakannya.

Tidak terasa tiga lembar aku habiskan pagi itu. Mama, adik dan ibu-ibu yang lain tidak berani mengangguku. Selesai membaca, ibu palestin itu memelukku. Aku merasakannya, ada rindu dalam pelukkan itu. Ibu itu mengusap kepalaku dan mencium keningku seperti seorang ibu mencium kening anaknya. 

Lalu dia berkata "I pray..for Indonesi". Lalu dia berdo'a dengan air mata di kedua matanya. Aku terharu. Ibu itu baru bertemu denganku. Selesai berdo'a, ibu itu kembali mengatakan, "You, pray..for palestin?". Aku tersipu. Aku jujur mengatakannya dengan arti "Maaf, tapi saya tidak bisa bahasa arab, dan hafalan do'a saya masih sedikit". Lalu dia berkata "Pray...just bahasa". Aku mengerti di situ. Ibu tersebut memintaku berdoa dengan bahas Indonesia. Lalu aku berdo'a. Aku tidak bisa menahan air mataku saat itu.

Selesai berdo'a, aku berkata padanya "Ummi, Syukron. I love you. I love Palestin". Lalu sekali lagi sebelum berpisah, ibu itu memelukku sambil berkata "I love you. Barakallaah" lalu dia mencium keningku lagi.

Saat berpisah dan aku sudah sampai di hotel untuk sarapan, baru aku sadari, aku lupa menanyakan namanya, begitupun ia. Dan saat berita Gaza dan Palestin semakin memanas kini, yang bisa aku lakukan hanya berdo'a.

Ummi...bagaimana kabarmu sekarang?
Semoga engkau selalu dalam keberkahan yang Allah limpahkan, padamu, pada Gaza, pada Palestin.

-mengenang cinta di Kota Rasulullah-
farfalla...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar