Jumat, 06 Desember 2013

Menua Bersama -sepenggal kisah tentang kesetiaan cinta-

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Pada sebuah malam, remot TV aku pegang dan dengan sekenanya aku tekan-tekan tombol pemindah channelnya. Rasa bosan sudah mulai menghampiri. Tapi tiba-tiba ada satu acara Talk Show yang aku sendiri lupa ada di channel apa.

Acara tersebut dipandu oleh seorang lelaki paruh baya dan ada sepasang suami istri yang usianya juga tak lagi muda. Sang suami memakai baju muslim berwarna biru muda dan sang istri memakai gamis dengan kerudung lebar berwarna hampir senada dengan yg digunakan oleh sang suami.

Setelah menit-menit terlewat, barulah aku sadar bahwa sang istri mengidap penyakit yg parah, LUPUS. Kondisi fisik antara mereka berdua sangat jauh berbeda. Sang suami di usianya yg menginjak paruh baya itu, terlihat matang dan bugar. kata orang sunda mah "kasep". Sedangkan sang istri, wajahnya tirus dan badanya kurus. Istrinya terlihat lebih tua, walau pada kenyataannya sang suami lebih tua 7 tahun dari istrinya itu.

Aku semakin tertarik untuk melanjutkan tontonan tersebut. Yg membutku tiba-tiba terkejut, sang istri sudah berpuluh2 tahun mengidap penyakit itu, dan sudah berpuluh-puluh tahun juga sang istri meminta suaminya untuk menceraikannya dan menikah lagi. Agar sang suami bisa mendapatkan perempuan yg jauh lebih bisa mengurusnya dan anak semata wayangnya.

Sempat menyesal tidak menonton dari awal acara. Karena aku jadi tidak tahu awal permulaan obrolan itu seperti apa. Dan aku tidak tahu kisah awal dari sepasang suami istri itu.

Tak terasa air mata menetes saat sang suami ditanya oleh MC tersebut.

"Bapak sangat cinta dengan istri bapak ya? Apa yg membuat Bapak begitu setia?"

"Ibu yang mencintai saya. Itu yang membuat saya juga mencintainya"

"Maksud bapak seperti apa? bisa bapak jelaskan?"

"Ibu yang dari awal pernikahan mengabdi dengan seluruh rasa cintanya kepada saya. Ibu yang sejak awal pernikahan setia kepada saya. Ibu yang mengajarkan saya tentang cinta itu seperti apa. Ibu saja setia dan cinta dengan semua kondisi saya yang serba kekurangan, tidak mungkin dan tidak terpikirkan oleh saya akan meninggalkan Ibu dalam kondisinya yang sekarang ini. Justru saat-saat seperti inilah saya harus bisa menunjukkan padanya bahwa saya juga mencintainya"

ya Allah..mewek sejadi-jadinya aku dikursi. Mama yang lewat jadi ikut penasaran lalu ikut menonton kelanjutan acara tersebut.

"Pak, boleh saya tahu, dimana tempat favorit Bapak saat sedang bersama Ibu? misalnya di kamar gitu?" (langsung disahut dengan ciyeeee dari penonton)

"Tempat favorit saya saat bersamanya cuma satu. Hatinya"

"Wah. Saya tidak mengerti lagi Pak. Hatinya Ibu maksudnya tuh seperti apa?"

"Ya hatinya. Tempai itu adalah Hatinya Ibu. Karena Hatinya Ibu saya bisa merasakan kedamaian, kebahagiaan, ketenangan dan cinta yang tulus serta suci itu seperti apa. Dari hatinya Ibu saya belajar banyak hal tentang kebahagiaan, kesetiaan, cinta, dan sebagainya. Cuma di Hatinya Ibu saya merasa aman"

pada momen ini, sang suami memegang erat tangan istrinya. Tak terasa, aku, mama dan MC itupun ikut meneteskan air mata.

"Kalau Ibu, apakah hati bapak juga tempat favorit Ibu?"

"Bukan"

Semuanya tertawa. MC lalu menggoda sng suami
"Nah loh Pak. Ternyata tempat favorit Ibu bukan hatinya Bapak" sang suamu hanya tertawa kecil.

"Jadi, kalau bukan di hatinya bapak, lalu tempat favorit Ibu dimana? wah..jangan-jangan pikiran saya benar nih, pasti di kamar ya bu?" semuanya pun tertawa lagi.

"Bukan. Tempat yang paling saya sukai, yang paling membuat saya nyaman, yang menjadi kesukaan saya dari awal menikah dengan bapak cuma satu. Di dalam pelukkan suami saya"

Jawaban sang istri sontak membuat decak kagum dan siut-siutan penonton.

"Waah. Ternyata Ibu orang yang romantis. Coba ceritakan pada kami semua bu, mengapa Ibu mengatakan itu?"

"Karena, cuma di pelukkan suami saya, saya bisa jadi perempuan paling lemah sekaligus paling kuat. Dalam pelukan suami saya, saya bisa jadi perempuan paling kekanak-kanakkan sekaligus paling dewasa. Dalam pelukan suami saya, saya bisa nangis dan bahagia sepuas-puasnya. Di saat banyak suami yang lelah dan memilih pergi meninggalkan istri yang penyakitan, suami saya bertahan berpuluh-puluh tahun dan memilih setia menjadi pendamping saya. Bagaimana saya bisa menolak semua kebaikan itu. Jika boleh memilih, saya memilih ingin hidup lebih lama dan mati berdua"

MC sambil menyeka airmatanya lalu bertanya pada sang suami

"Apa yang menjadi keinginan Bapak yang paling ingin Bapak wujudkan? apakah ingin Ibu sembuh, atau membawa Ibu ke pengobatan yang lebih baik lagi atau ada hal yang lain?"

"Tidak perlu. Saya dan Ibu sudah mengetahui bahwa penyakit ini sulit sekali disembuhkan. Saya cuma berdo'a dan berharap, saya dikasih umur yang panjang, kesehatan dan kekuatan yang lebih besar lagi. Agar bisa merawat istri saya dan menemaninya sampai saat-saat terakhir. Karena kalau saya sakit atau saya yang meniggalkannya lebih dulu, siapa yang akan merawat Ibu. Saya takut Ibu tidak ada yang mengurus. Anak kami satu-satunya kan bekerja di luar kota dan sudah punya keluarga sendiri"

Ya Allah..Ya Rabb..
Tiba-tiba hujan deras. Para penonton, MC, aku dan juga mama pastinya, nangis senangis-nangisnya. Ternyata masih ada cinta yang seperti itu di zaman sekarang ini.

Setelah melihat acara itu, jadi berpikir, saat aku nanti memilih seorang laki-laki yang akan menjadi imam dunia akhiratku kelak, akankah dia mencintaiku dan setia padaku seperti itu? sampai saat-saat terakhir hidupku dan dengan kerelaan hati menjagaku.

Sebelum tidur, akhirnya aku kembali menggelar sajadah dan tersungkur haru karena masih merasakan efek dari acara tadi.

"Rabb..jika suatu saat nanti hamba jatuh cinta dan memutuskan memilih seorang laki-laki, jatuhkanlah pilihan hatiku pada seorang hambaMu yang mencintaiMu dan takut akan murkaMu. Yang akan memuliakanku karena kecintaannya padaMu. Yang membawaku pada syurgaMu, bukan jahanamMu..Aamiiin ya Rabb"


(dan aku harap, kamulah laki-laki hamba Allah itu)
#HDD
06/12/2013.........kamar cinta 17.52


-Farfalla-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar