Jumat, 18 November 2011

Cinta Mawar

Papa kini sedang memberikanku makanan , dia juga selalu memberiku minuman , aku dijaganya dari jahatnya para penjahat di luar sana . Papa membuatkan satu kamar untukku , tempatku menari bersama angin dan bernyanyi menemani jangkrik . Papa selalu menjagaku ketika malam tiba dan aku mulai tidur . Kamarku dipastikan selalu bersih dari para pencuri sumber makananku . Papa selalu membantuku , karena aku tidak mampu merawat diriku sendiri . Apa artinya aku . Aku hanyalah setangkai mawar dalam pot kecil di pinggir jendela rumah papaku . Umurku baru tiga bulan . Belumlah cukup bagiku untuk mandiri . Baru dua minggu kemarin aku bertemu dengannya . Aku sayang papa . Jika saat nanti aku tumbuh menjadi mawar yang mempesona , akan kuhibur hati papa dengan senyumku dan tarian-tarianku .
            “ Ada mawar , kakek baru beli kapan ? “ tanya seorang bocah kecil berlari memandangku . Oh , tubuhnya sangat mungil sekali , dari parasnya kuyakin papa merasakan darahnya mengalir kedalam tubuh bocah indo ini .
            “ Ko , hati-hati , itu mawar kesayangan kakek . Baru kakek beli kemarin di pasar . Lihat baik-baik , dia sedang tersenyum pada mu “ papa menasehati bocah kecil itu , Niko .   Oya , ada satu rahasia yang hendak aku ceritakan , tapi aku malu , jadi aku harap kalian jangan menceritakan tentang kisahku ini kepada papa , karena jika papa tau pasti dia akan marah , mungkin .
            Aku sedang jatuh cinta pada seorang laki-laki yang selalu datang setiap sore ke rumah papa . Dia selalu membantu papa merawatku dan teman-temanku yang lain . Aku sering memperhatikannya , dia sangat rajin dan ulet . Semua dikerjakannya . Mulai dari memberi makan si Pisang , memandikan si Palem , membersihkan kamar si Jeruk sampai pada merapikan rambut si Rumput .
            Jika ia melihatku , dia selalu tersenyum manis padaku , sambil berkata
            “ Cepatlah besar mawar , aku yakin kau akan tumbuh cantik dan anggun dengan warna merah mu itu , aku tunggu “ sembari membelai kelopakku . Kadang aku tidak bisa menahan perasaanku , aku selalu bahagia jika ia mengatakan hal itu . Oh Tuhan ,  mengapa aku jatuh cinta padanya ?
            Dan saat ia hendak pulang karena hari mendekati jingganya , ia selalu melambaikan tangannya padaku
            “ Sampai jumpa besok mawar kecilku “ ah , betapa ia sangat mengagumkan . Jarang kulihat  ada yang seperti dia . Suatu saat nanti aku akan tumbuh menjdai mawar yang siap mempesonamu dengan keanggunanku .
* * * * *
            Mengapa ia tidak datang juga . Padahal ini sudah jam empat , biasanya ia tidak pernah datang terlambat . Oh Tuhan , apa yang sedang terjadi dengannya ?
            Suara pintu pagar dibuka , seseorang dengan langkah mantapnya mengagetkanku . Dia melepaskan jaketnya , kemudia menarik lengan baju kemejanya , lalu mulai mengambil air disusul oleh botol-botol kecil yang ku tahu itu makanan kami .
            Ia mendekat kearahku , “ Bagaimana kabar mawar kecilku hari ini ? “ aku tersenyum padanya . Ia pun membalas senyumku , ah , seandainya ia tahu perasaan ku .
            Aku senang melihatnya bekerja . Peluh yang keluar dari dahinya tanda perjuangannya . Aku mengetahui seluk beluk kehidupannya . Ia sering bercerita padaku saat beristirahat . Bagaimana ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis kereta api , bagaimana ia harus menghidupi kedua adiknya yang kini menjadi tanggungannya dan bagaimana ia harus tetap kuliah agar menjadi orang pintar . Semua perjuangan itu membuatku benar-benar mengaguminya .
            “ Ya , Arya ,,, tolong bantu bapak menyusun bonsai ini “ papa memanggilnya . Dengan sigap ia segera berlari menuju teras . Sekarang aku bisa melihatnya tersenyum bersama papa . Ya , hanya papalah yang menjadi semngatnya . Papa sudah dianggap sebagai orang tua sendiri . Kasih sayang itu kini tumbuh dengan sendirinya , ketika berawal dari pertemuan yang tidak terduga . Papa bilang , saat itu dia sedang patah semangat , dan hampi mengakhiri hidupnya dengan sengaja berdiri ditengah jalan . Jika saja papa tidak datang mengambilnya dan dibawa kerumah , jika saja papa tidak mau membuka tangannya , mungkin sekarang aku tidak dapat melihat sosoknya .
            Papa kemudian memberikan biaya kuliah , tapi dengan satu syarat , dia harus mau membantu papa mengurus kebun. Ah betapa aku harus sangat bersyukur atas semua nikmat ini .
* * * * *
            Satu tahun lewat dari pertemuan kami . Sekarang aku dan Arya sudah semakin dekat . Ia lebih senang bercerita padaku . Mungkin karena aku tidak akan bisa menceritakan keluh kesahnya kepada orang lain . Ia tahu semua jadwalku . Kapan aku harus dikasih makan , vitamin , dibersihkan , dan diberi minum . Ia menjagaku dengan sangat baik .
            Tapi memang dia tidak bisa lagi terlalu sering berada di sini . Karena tugas-tugasnya juga sangat banyak. Dan aku harus mengerti akan keadaanya.
            Suatu hari ia pernah bercerita . Dia ingin sekali membuat sebuah toko bunga yang didalamnya terdapat berbagai jenis bunga-bunga yang indah . Dia ingin membuka toko itu untuk memberikan sebuah kejutan pada papaku . Tentu aku sangat bangga . Dia lalu memegang  daunku
            “ Jika suatu saat nanti , toko yang kuimpikan akan terwujud , aku akan meletak-kanmu di tempat yang paling indah dari semua yang ada di dunia , agar aku bisa selalu bersama dengan mu . Mawar kecilku “ begitulah janjinya padaku .
            Arya , aku hanyalah setangkai mawar yang sebentar lagi akan menjadi dewasa . Aku hanyalah setangkai mawar yang tidak seharum melati , seabadi edelweis dan seteguh kamboja . Aku hanya mawar yang tidak sanggup membantu apa-apa kecuali do’a dan do’a . Aku hanya sanggup menghiburmu dengan merahku bila kau butuh , mendengarkanmu bila kau sedih dan menemanimu bila kau tertawa .
* * * * *
            Satu tahun lagi berlalu sejak ia mengucapkan keinginannya . Kini ia terlihat semakin dewasa dan mempesona . Terlihat semangat kerja kerasnya , kesabarannya dan kesungguhannya telah berhasil membawanya kepada kesuksesan .
            Aku , mawar kecil yang rapuh itu kini sudah berdiri kokoh di dalam pot jingga . Harum tubuhku sudah bisa tercium , warna merah darahku sudah bisa membuat orang lain terpesona , dan indahnya kelopakku , sudah bisa membuat Arya berkata “ Kau tumbuh menjadi bunga yang cantik , kau seperti bidadari surga , dan aku akan menepati janjiku . Sebentar lagi , aku akan membawamu ketempat yang paling indah “
            Aku gembira . Arya memang sedang membuat toko bunga , dan sebentar lagi , hanya menunggu beberapa hari lagi ,  ia akan mengajaku pergi , oh , betapa tak sabarnya menunggu hari itu .
* * * * *
            Apa kau tahu , toko Arya sudah selesai sekarang . Besok adalah hari pertama peresmian toko ini dibuka . Dan besok tibalah saatnya aku akan pergi menemani Arya dan akan selalu ada di dekatnya . Malam ini aku pasti akan mimpi indah , mimpi indah bersama Arya .
* * * * *
            Air mata ku tidak bisa berhenti mengalir . Lemas sudah badanku . Kini mimpi Arya terwujud . Dia memang membawaku untuk selalu didekatnya . Dia memang akan membawaku ke tempat yang paling indah . Tempat dimana aku bisa tertawa dan bercanda  bersamanya .
            Tapi kini dia hanya dibalut kain putih , senyumnya kini terpendam dalam kebekuan suci . Tubuhnya yang selalu bergerak , kini kaku , membiru . Dulu ia tertidur diatas dipan , tapi kini , ia tertidur dibawah sepetak tanah merah .
            Aku , kini bisa selalu bersamanya karena aku tumbuh disamping nisannya . Terbayang olehku bagaimana ia berusaha menyelamatkanku dari reruntuhan itu .
            Gemp itu merenggut nyawanya , cita-citanya dan mimpinya . Aku lihat bagaimana ia bertahan untuk menyelamatkan semua teman-temanku , bagaimana ia menggendong papa yang pingsan , bagaimana ia melindungiku dari balok yang hendak menimpaku , dan bagaimana darah merah segar mengucur deras dari kepalanya , merah , semerah kelopakku .
            Kini aku akan bertemu dengannya . Dalam wangi yang lebih harum dan tempat yang lebih indah . Kami akan bertemu dalam indahnya cinta . Kami akan bertemu dalam wangi taman syurga

                                                                            ( untuk mawar dunia nyata : jangan berhenti mencintai nya )
                                                                                                                 Farfalla