Jumat, 04 November 2016

MY BELOVED MUJAHID

Hari ini kamu terlihat begitu berkharisma sayang. Entah apa yang mengembalikkan sebentuk hasrat itu dalam lengkungan senyummu. Kamu pergi dengan wajah begitu damai dan gema takbir itu seolah terpancar dalam tatapanmu.

Ya, aku tahu dengan pasti. Ini dunia yg kamu rindukan bukan? Dunia yg tanpa sengaja sedikit harus kamu abaikan semenjak ada aku dan si kecil di hidupmu. Dakwah pada umat, yg seolah sedikit demi sedikit terpinggirkan karena kesibukanmu mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi tetap mengepulnya dapur rumah kita.

Entah mengapa melihatmu hari ini, seolah aku jatuh cinta untuk ke sekian kalinya. Rindu sekali melihatmu begitu bergairah seperti ini. Ini dunia yg kau cintai, bahkan jauh sebelum kamu bertemu denganku, iya kan?

Aku tahu kamu ingin sekali ikut membela agama yg begitu kita cintai ini. Dan aku tahu kamu bingung dan takut jika aku tidak akan mengizinkanmu pergi. Makanya sengaja aku pancing dengan pertanyaan "Ayah mau ikut aksi dama ke Jakarta?", dan seolah ingin menjaga perasaanku, kamu tidak langsung menjawab, tetapi kembali bertanya "mm, emangnya kenapa gitu?". Hahaha, aku sudah menduga jawaban itu. Terimakasih karena kamu mengkhawatirkan perasaanku.

Dan benar saja, raut wajahmu berubah menjadi ceria dan sumringah begitu aku katakan "Enggak kenapa-napa. Cuma nanya aja. Kalau ayah emang mau pergi ke sana, bunda enggak akan ngelarang". "Rencananya sih iya, lagi koordinasi sama temen-temen dulu" begitu kamu jawab dengan begitu bersemangat menghampiri smart phonemu, mungkin mulai menghubungi teman-temanmu.

Alhamdulillah. Jika saat itu, restu dariku memang membuatmu begitu bahagia, maka aku lebih berbahagia sayang. Karena, bukankah tujuan pernikahan kita adalah Sakinnah, Mawaddah, Warrahmah dan Wadakwah? Bukankah 'Di Jalan Dakwah Aku Menikah'? Jadi kamu jangan takut aku akan cemburu dengan tugas dakwahmu. Tidak ada hakku untuk cemburu atas kewajibanmu pada Tuhan kita. Kamu seutuhnya milik Dia yg Maha. Selama jalanmu demi mengabdi sepenuhnya pada Allah, maka selama itu juga aku berjalan mendampingimu.

Apa aku khawatir? Tentu saja. Sedetik aku ingin sekali melarangmu pergi. Tapi, kerinduanku melihat binar matamu saat membicarakan palestin, syiria, mesir, dan dimana-mana itu lebih kuat bila dibandingkan dengan secuil rasa cemas yg tidak mendasar itu. Bukankah Allah selalu bersamamu? kamu yg selalu bilang, jihad ini tidak ada secuilnya dari jihad saudara-saudara kita di palestina, di syiria, dan di belahan bumi lainnya itu. Maka tidak ada alasan bagiku untuk menahan dan melarangmu.

Sampaikan salamku pada Allah sayang. Katakan padaNya, bahwa aku memenuhi jihadku dijalanNya. Jihadku dengan merestui dan mendo'akan suamiku membela agamaNya di garis terdepan. Sampaikan padaNya bahwa aku membersamaimu dalam berjuang. Dan suatu saat nanti, di hari besar penghisaban, aku ingin kamu bisa bersaksi di hadapanNya, bahwa aku membersamaimu berada di pihakNya.

Rabb, lindungi pejuangku ini, sampai ia kembali dalam pelukaku di rumah nanti. Aamiin

-farfalla, 411-
Aksi damai penuh cinta

Minggu, 22 Mei 2016

Opini cerita "Istriku Berhentilah Mengeluh"

Ada yang mengusik pikiran yg ingin segera tertuang. Mengenai keluhan dan rasa lelah. Ya. Rasa lelah yg terkadang terlalu disepelekan.

Beberapa bulan lalu, sedang booming mengenai postingan di salah satu akun jejaring sosial FB, “istriku, berhentilah mengeluh” dan cerita di dalamnya. Tentang seorang suami yg menasehati istrinya untuk berhenti mengeluh dan menangis karena merasa lelah mengurus rumah sekaligus ketujuh anak tanpa bantuan asisten rumah tangga.

Dalam cerita tersebut sang suami menasehati dan menceritakan tentang Rasulullah yg menasehati putrinya, Fatimah ra, yg sedang menangis karena tangannya mengelupas (luka) karena menggiling gandum. Menasehati bahwa semua ganjaran lelah itu terbayarkan surga.

Membaca cerita tersebut, hati saya tiba-tiba terusik. Sangat terusik. Bukan hendak membahas dari sudut pandang ilmu tertentu. Tentu tidak. Karena ilmu saya masih sangat-sangat jauh dari mumpuni. Masih berupa ampas-ampas terberai di dasar air.

Saya hanya ingin menyampaikan apa yg saya rasakan dari cerita tersebut.

Begini ya para bapak-bapak suami.

Pernahkan anda membaca buku ‘MEN ARE FROM MARS AND WOMEN ARE FROM VENUS’ karya John Gray, ph.d.? Jika belum, COBA BACA! Pernahkan anda membaca buku ‘BARAKALLAAHU LAKA, BAHAGIANYA MERAYAKAN CINTA’ karya Ust. SALIM A. Fillah ? Jika belum, COBA BACA! Atau pernahkan anda membaca 'PSIKOLOGI SUAMI ISTRI’ karya DR. Thariq Kamal An-Nu'aini ? Atau 'TALK TO ME LIKE I’M SOMEONE YOU LOVE’ karya Nancy Dreyfus, Psy.D., ? Dan masih banyak lagi buku-buku tentang pernikahan sejenisnya. Biar para bapak-bapak suami tidak hanya asal meng-copy paste sebuah tulisan atau tidak langsung ujug-ujug nge-share sebuah cerita hanya dari judulnya saja untuk meng-kode-i para istri-istrimu.

Oke, mari kita diskusi. Mengapa diskusi? Karena saya masih tahu diri. Saya masih miskin ilmu. Karena toh pernikahan saya baru berjalan 1 tahun lebih. See? Masih terlalu muda untuk memberi pelajaran mengenai ilmu pernikahan dibanding pasangan-pasangan sekelas bunda Widiyawati dengan alm.ayah Sopan Sopian.

Jadi begini bapak-bapak suami. Pertama, Mengapa istrimu banyak sekali mengeluh? Karena begitulah para wanita melepaskan beban. Bercerita. Bukan untuk membebanimu dengan semua keadaan yang dirasa salah olehnya. Tapi istrimu itu hanya ingin mengungkapkan apa yg berseliweran menumpuk di dalam pikiran dan hatinya. Jika bukan padamu, teman hidupnya hingga maut memisahkan (berharap teman sampai surga), pada siapa lagi mereka harus menumpahkannya. Bukankah istri sholehah itu yg menutup rapat segala permasalahn rumah tangganya dari telinga-telinga manusia lain? Jika istrimu berkeluh kesah padamu, itu artinya dia menganggap bahwa kamu adalah 'the only one’ yg bisa dia percaya. Harusnya kamu bersyukur.

Kedua. Karena wanita berbicara dg hati. Berbeda dg laki-laki yg cendrung realistis, wanita memikirkan permasalahan dg hati, dg berbagai emosi. Pernah dengar kalimat 'wanita itu mikir pake hati, lelaki mikir pake otak’. Walaupun tidak melulu demikian, tapi kecendrungannya memang begitu. Saat istrimu menumpahkan segala macam keluh, kesal, amarah, atau sedih, bukan berarti mereka benar-benar merasa dunia segitu hancurnya. Bukan berarti mereka merasa bahwa semua keadaan begitu serba salah. Bukan bermaksud benar-benar ingin membebanimu dg semua itu. Sekali lagi, mereka hanya ingin mengeluarkan segala macam sesak.

Karena bagi wanita yg sering menahan sesak, seperti bom waktu yg sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan segala yg ada disekitarnya. Wanita pada dasarnya mengetahui bahwa apa yg mereka keluhkan tidak berarti yg sebenarnya. Tapi inilah salah satu kebutuhan wanita. Wanita butuh pendengar setia. Selain pada Tuhannya, mereka akan mencari teman yg mereka anggap pantas menjadi tempatnya menyandarkan segala macam lelah. Disaat para ruami mencari penyelesaian masalah dengan bersemedi masuk gua (baca menyendiri), istri menyelesaikannya dg bercerita. Menumpahkan emosi. Mereka meminta solusi? TIDAK. Mereka hanya butuh didengarkan, itu yg penting. Setelah semua keluhnya tersampaikan, para suami mendengar dg baik, mereka nyaman, setelah letupan emosi istei mereda, dg sendirinya mereka mampu menerima solusi atau justru menemukan sendiri solusi dr permasalahannya.

Ketiga, karena istri-istrimu bukanlah Khadijah, 'Aisyah, Fatimah ataupun wanita-wanita muslimah jaman Rasulullah. Istrimu hanya wanita akhir zaman, yg sedang berusaha menggapai surga, di dalam hidup bersamamu. Bukankah sebaik-baiknya seorang hamba adalah yg paling baik akhlaknya terhadap istrinya? Jika dengan memberikan waktu dan kesempatan kepada istri untuk bisa merasa lebih baik, lalu membuat istri bahagia, dan dengan itu pula rumah tangga terselamatkan dikatakan sebagai akhlak yg baik, maka patutlah itu dilakukan oleh para suami.

Bagaimana dengan kelanjutan cerita postingan di FB? Nah, kebayangkan untuk para bapak-bapak suami terhormat, mengurus rumah dan ketujuh anak sendiri tanpa asisten rumah tangga, membiarkan sang suami pergi mencari nafkah dg tenang, lalu menangis mengeluhkan kelelahan dalam mengurus rumah tangga dan anak, setelah itu dinasehati dg membandingkannya dg mulianya Fatimah ra, wajar nggak sih kalau sang istri merasa bahwa suaminya tidak mengerti kondisinya? Wajar nggak sih kalau akhirnya rumah tangga menjadi begitu kaku, dingin, sepi, lalu akhirnya karam? SITU PIKIR SITU MUHAMMAD atau ALI BIN ABI THALIB?

Berempati sedikitlah kepada istrimu. Bukankah Rasulullah saat menghadapi letupan keluhannya 'Aisyah tetap bersikap arif? Tetap mendengarkan? Tidak langsung menginterupsi? Bukankah Rasulullah pun memberi jeda kepada istrinya untuk bisa mendamaikan hatinya lalu akhirnya bisa berpikir dg lebih jernih?

Hmm…akhirnya segala yg mengusik pikiran ini sudah tertuang. Maafkan tulisan yg pabalatak ini. Maafkan ilmu yg masih cetek ini. Maafkan jika dalam penulisan ini banyak kekeliruan. Di atas sudah saya sampaikan, mari berdiskusi, karena saya tidak sedang memberikan kuliah umum. Toh saya bukan dosen. Allah lebih tahu dan Allah yg maha sempurna.

Jazakallaah khairaan katsiraan

-farfalla-

Kamis, 04 September 2014

Kita Tidak Selalu Harus Sama - Sahabat -



Kita tidak pernah benar-benar bisa sama...

"Maaf, tapi sepertinya aku tidak pantas menjadi sahabat kalian"
"Kalian terlalu baik untuk aku, aku nya saja yang tidak tahu berterimakasih"
"Maaf sudah selalu merepotkan kalian"
"Kalian nggak pernah mengerti"
"Ga ada yang tahu apa yang terbaik buat aku, kecuali aku sendiri"
"Kalo nggak suka ya udah, kita nggak usah sahabatan lagi"

Kalimat-kalimat itu sering sekali aku dengar. Apalagi di awal-awal tahun persahabatan aku dan mereka. Kalimat-kalimat ini seolah menjadi suatu pertanda bagi siapa saja, bahwa orang yang sedang membicarakan itu ingin mengakhiri hubungan persahabatannya.

Perbedaan yang dirasakan selalu dijadikan alasan bahwa kita tidak pernah bisa bersahabat. Persamaan yang ada selalu dijadikan sebuah persyaratan untuk bisa menjadi seorang sahabat. Tapi, apa benar harus selalu seperti itu?

Bukankah sahabat itu bisa siapa saja yang datang? tidak melulu sama dengan diri kita. Bisa jadi sahabat adalah seseorang yang justru kita abaikan karena terlalu cerewet. Atau seseorang yang kamu benci karena dia selalu menyindir dengan tajam. Atau bisa juga seseorang yang tidak kita sangka mampu memarahi kita saat kita salah.

Mengapa mereka yang disebut sahabat?

Karena ketulusan yang lahir dari perbuatan mereka, semata-mata ingin kita terlihat dan bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.

Apa dengan alasan itu kamu bisa membuang sahabatmu? tentu saja bisa. Tapi, saat kamu mengetahui apa yang sebenarnya mereka lakukan demi diri kita, saat itu juga mungkin kamu merasakan bagaimana kamu menyia-nyiakan sahabatmu.

Sahabat adalah orang yang berbeda, tetapi sekaligus sama. Ia mampu menunjukkan jati dirinya tanpa takut kamu tinggalkan, karena ia ingin kamu melihatnya sebagai dirinya, buka sebagai yang kamu pinta. Sahabat juga adalah orang pertama yang akan marah-marah di depan mukamu, saat ia tahu, apa yang kamu lakukan adalah hal yang salah, karena ia ingin kamu jadi orang yang lebih baik.

Sahabat adalah orang yang menjadikan kamu, sebagai orang yang spesial di hatinya, tanpa rasa ingin tahu apakah dia juga sama spesialnya di matamu.

Sahabat adalah orang yang akan selalu menyambutmu dengan senyuman dan tangan terbuka, meskipun kamu pernah pergi menjauhinya. 

# untuk Sahabat-sahabatku

Aku bukan seseorang yang bisa menjadi pelangimu saat hujanmu. Karena aku adalah diriku. Hanya sebuah warna di antara berjuta warna yang membentuk pelangi. Aku tidak bisa menjadi pelangi tanpa warnamu yang menyatu dengan warnaku. Kalian bagai kilauan-kilauan yang berkelap-kelip, berwarna-wrni, tapi tak ada satupun yang berwarna sama denganku. Awalnya aku merasa terlalu asing dengan warna-warnamu yang berbeda. Tapi aku menyadari satu hal. Warna-warnamu menyebar dan melengkapi bagian yang tidak ada padaku, sehingga aku tidak harus merasa takut akan warnamu yang memenuhi warnaku. Warna-warnamu menempati ruang-ruang kosong istimewa yang ada padaku, sehingga melengkapinya, menjadi sebuah pelangi warna-warni yang indah...


Dan seharusnya dalam persahabatan lebih banyak menggunakan kalimat
"terimakasih sudah menjadi sahabat terbaik yang aku punya"

bukan kata "maaf"


-terimakasih-
lala.04-09-2014

Kamis, 24 Juli 2014

Merindumu....Menunggumu....




Merindukanmu itu seperti menantang angin
Berusaha sekuat tenaga menggapainya
Pada akhirnya yang terindah adalah merasakan semilirnya

Menunggumu itu seperti menguasai pasir
Berusaha sekuat tenaga menggenggamnya
Pada akhirnya yang terindah adalah merasakan luruhnya

Merindukanmu ternyata akan terasa lebih indah
Saat ku biarkan rindu ini semilir menerpa relungku

Menunggumu ternyata akan terasa lebih indah
Saat ku biarkan luruh waktu jatuh di batasku

Ah...sungguh
Angin dan Pasir itu lebih tahu bagaimana aku terpesona
Dengan siksaan rindu dan penantian ini...


20/07/14
-LM-
farfalla

Rabu, 09 Juli 2014

IBUKU dari PALESTINA

Gaza..Palestin..

Ya Allah, berita gencar-gencarnya zionis israel yang menyerang Gaza dan Palestin dengan rentettan bom, rudal dan sebagainya itu kembali menerbangkankan memoriku tentang sesosok ibu dari negeri para mujahid/mujahiddah itu.

Hari itu, Shubuh pertamaku di mesjid Nabawi, di Kota Rosulullah, Madinah, dekat sekali dengan kekasihku itu. Shubuh itu aku dan mama tidak mendapat tempat di depan. Akhirnya kami menempati tempat yang seadanya, di dekat pintu keluar. Kami beserta romobngan ibu-ibu dari travel perjalanan Umroh janjian pergi shalat shubuh bersama.

Singkat cerita, selesai mengerjakan shalat shubuh, aku mengeluarkan Al-Qur'an kecil dari dalam tasku. Mama dan rombongan lain juga masih tampak ingin berlama-lama di mesjid. Aku buka Al-Qur'an tersebut, lalu aku mencari tempat bersender agar lebih nyaman, karena jujur, badanku masih lelah karena perjalanan dari Indonesia ke Madinnah itu tidaklah dekat :)

Baru saja hendak membaca basmalah, seorang ibu-ibu bertanya padaku dengan menggunakan bahasa Arab yang kurang lebih aku artikan "apakah saya boleh duduk di sini?" Lalu akupun tersenyum sambil mempersilahkannya dengan kedua tanganku. Ibu itu mengusap kepalaku dan tersenyum.

Perawakannya tinggi dan besar. Mengunakan Gamis berwarna hijau tua dengan jilbab menutupi dada berwarna hitam. Ibu tersebut membawa tas usang berwarna hitam, yang terlihat sedikit lusuh di bagian depan.

Setelah memperhatikan sesaat, aku mulai membaca Al-Qur'an perlahan. Tidak disangka ibu tersebut mendengarku. Beliau kembali mengusap kepalaku sambil tersenyum. Lalu dia menepuk pundakku dan bertanya "Indonesi?". Aku pun menjawabnya sambil menganggukkan kepalaku. Lalu dia kembali berkata "Subhanallaah". Tanpa di duga-duga Ibu tersebut memelukku. Aku sampai kaget.

Lalu dia bercerita dengan antusias dengan bahasa arab yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk. Seolah dia mengerti bahwa aku tidak bisa memahami apa yang dia katakan, dia lalu mengatakan "I love Indonesi. Indonesi good. Indonesi muslim is very good" dengan logat yang terbata-bata dan seadanya juga. Lalu aku bertanya "where do you come from?" Ibu itu aga sedikit bingung. Lalu aku kembali menjelaskan "I, Indonesia. You?". Setelah itu ibu tersebut tersenyum sambil mengangguk "I Palestin". Aku pun kembali mengatakan "Subhanallah..Indonesian muslim love palestin". Dan Ibu itu kembali berkata dengan arti "Ya, aku tahu, muslim di Indonesia sangat mencintai palestin".

Setelah pembicaraan itu, Ibu tersebut mengambil Al-Qur'anku. Dia menunjukkan baris pertama di sebuah halaman seolah bartanya "Apa dari sini kamu mulai membaca?". Aku pun mengangguk. Lalu dia mulai membaca dengan suara yang indah, perlahan dan makhraj yang sangat tepat. Lalu ibu itu mengayunkan tandanya seolah berbicara padaku agar aku mengikuti cara bacanya. Lalu aku mengikutinya. Setiap selesai aku mengikuti cara ibu itu membaca Al-Qur'an, Ibu itu selalu mengatakan "Subhanallah" sambil mengusap-usap kepalaku. Dan setiap ada cara baca ku yang kurang tepat, ibu tersebut kembali mengulang bacaannya dengan lebih pelan dan menekankan di bagian yang aku salah membacakannya.

Tidak terasa tiga lembar aku habiskan pagi itu. Mama, adik dan ibu-ibu yang lain tidak berani mengangguku. Selesai membaca, ibu palestin itu memelukku. Aku merasakannya, ada rindu dalam pelukkan itu. Ibu itu mengusap kepalaku dan mencium keningku seperti seorang ibu mencium kening anaknya. 

Lalu dia berkata "I pray..for Indonesi". Lalu dia berdo'a dengan air mata di kedua matanya. Aku terharu. Ibu itu baru bertemu denganku. Selesai berdo'a, ibu itu kembali mengatakan, "You, pray..for palestin?". Aku tersipu. Aku jujur mengatakannya dengan arti "Maaf, tapi saya tidak bisa bahasa arab, dan hafalan do'a saya masih sedikit". Lalu dia berkata "Pray...just bahasa". Aku mengerti di situ. Ibu tersebut memintaku berdoa dengan bahas Indonesia. Lalu aku berdo'a. Aku tidak bisa menahan air mataku saat itu.

Selesai berdo'a, aku berkata padanya "Ummi, Syukron. I love you. I love Palestin". Lalu sekali lagi sebelum berpisah, ibu itu memelukku sambil berkata "I love you. Barakallaah" lalu dia mencium keningku lagi.

Saat berpisah dan aku sudah sampai di hotel untuk sarapan, baru aku sadari, aku lupa menanyakan namanya, begitupun ia. Dan saat berita Gaza dan Palestin semakin memanas kini, yang bisa aku lakukan hanya berdo'a.

Ummi...bagaimana kabarmu sekarang?
Semoga engkau selalu dalam keberkahan yang Allah limpahkan, padamu, pada Gaza, pada Palestin.

-mengenang cinta di Kota Rasulullah-
farfalla...


Jumat, 20 Juni 2014

GERIMIS





Ada gerimis di relung ini Tuhan
Entah darimana asalnya

Aku terduduk, diam, sayup mengawasi
Semakin lama, semakin menggenang

Degubnya tersembunyi di antara kelabu-kelabu
mengalir sampai di ujung jemariku, bergetar namun beku

-farfalla-

MENTARI dan MALAM

Aku tidak tahu kapan persisnya aku mulai mengenalmu. Yang aku ingat, kamu yang terlebih dahulu menyapaku, mengajakku berpetualang ke duniamu. Aku hanya diam dan mengiyakan ajakanmu.

Aku juga lupa bagaimana dulu kita bisa sedemikian menyatu. Tanpa banyak kata dan pinta, kamu memberikan semua yang aku butuhkan, seolah seluk-beluk dalam pikiranku pun sudah kamu jelajahi.

Kita berkeliling. Menjelajah setiap ruang-ruang dalam diri kita, agar bisa terasa begitu nyaman. Dan sekali lagi, kamu yang lebih dulu mempersilahkan aku masuk untuk berkeliling. 

Aku tidak menyebutmu dalam diam. Aku juga tidak memintamu pada Tuhan untuk didatangkan. Kamu datang begitu tiba-tiba. Tapi ada satu hal yang tidak pernah ku sesali dari takdir pertemuan kita. "Kita sahabat sampai surga" itu sebuah ikrar manis yang juga tiba-tiba muncul dari mulutmu. Sambil senyum dan menatap mataku dalam, dengan kepolosan yang sampai saat ini masih tertanam manis sebagai jati dirimu, aku tertegun. Kalimat itu yang membuatku bertahan sampai saat ini. Ya, kita sahabat sampai surga.

Banyak orang yang menyangka, kamu introvert sedangkan aku ekstrovert, makanya bisa menyatu. Salah. Bertahun aku bersamamu, aku merasa predikat itu tertukar. Akulah yang introvert dan kamulah yang ekstrovert. Aku harus mengerahkan semua keberanianku untuk bisa beradaptasi dan menyatu dengan suasa dan orang baru. Sedangkan kamu, dengan ibu-ibu atau bapak-bapak yang baru bertemu saja bisa bercerita panjang lebar. Aku harus merasa nyaman dengan seseorang dulu baru bisa banyak menceritakan sesuatu. Kamu, dengan tukang penjual bakso yang baru lewat saja bisa saling bercanda.

Saat marah, kesal, kecewa, atau membenci seseorang, aku tidak segan-segan menunjukkan ketidaksukaanku, dan kamu selalu menasehatiku tentang nada bicara dan juga bahasa yang aku gunakan saat marah. Sedangkan kamu, kamu akan menutupnya dan bersikap sebaik mungkin di hadapan banyak orang, tapi pada akhirnya kamu akan menumpahkannya dengan gaya yang tidak kalah kekanak-kanakannya di hadapanku.

Ah, kamu memang istimewa. Terlepas dari semua keegoisan kita sebagai sesama wanita, kita bisa saling memahami dan menghargai hak asasi masing-masing. Aku ingat bagaimana kamu selalu menasehatiku dan menyindirku tentang semua sikap burukku, tanpa kamu tahu bahwa kamu pun begitu. Dan saat aku yang berbalik menasehati dan menyindirmu, kita hanya bisa saling tertawa tanpa ada perasaan dendam.

Aku ingat bagaimana kita saling bergantung satu sama lain. Mulai mengerjakan SKRIPSI, malas-malasan, kabur-kaburan dari aktivitas kampus, liburan melepas lelah, mengejar deadline skripsi dalam 28 hari, daftar sidang, lulus sampai mencari pekerjaan bersama. Semua hal itu membuatku rindu.

Kita mempunyai warna dan rasa yang berbeda. Tapi entah mengapa, dalam berbagai kesempatan, aku merasa kita punya warna dan rasa yang begitu sama. Kamu melengkapi ruang-ruang kosong yang sudah terlalu jenuh kupenuhi sendiri.

Aku selalu ingin tertawa, saat banyak orang-orang di kampus kita, yang pada kesempatan itu melihatku jalan sendiri bertanya "kembarannya mana?". Begitu dekatnya kah kita, sampai semua yang ada padaku selalu di asosiasikan denganmu dan semua yang ada padamu selalu diasosiasikan denganku?

Sudah hitungan mingguan atau bulanan mungkin, aku kehilangan sosokmu. Walau sampai detik ini kamu masih tetap setia selalu ada kapanpun aku butuh, aku tetap merindukan sosokmu, seseorang yang selalu jadi kebalikanku, tapi akan tetap selalu menjadi kembaranku.

Hey sahabat surgaku...aku rindu....


*teruntuk Mentari
-farfalla-